Ini 5 Dampak Kekurangan Protein

 



SEHAT KEKALIni 5 Dampak Kekurangan Protein. Protein sangat penting untuk menunjang kesehatan kita. Makronutrien ini menyediakan bahan pembangun tubuh, bukan cuma otot. Setiap sel, dari tulang, kulit, hingga rambut mengandung protein.

Dilansir Brittanica, 16 persen dari berat rata-rata manusia berasal dari protein. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan, kesehatan, dan pemeliharaan tubuh.

Semua hormon, antibodi, dan zat penting lainnya terdiri dari protein. Protein tidak digunakan untuk bahan bakar tubuh kecuali diperlukan.

Protein terdiri dari asam amino yang berbeda. Sementara tubuh dapat membuat beberapa asam amino sendiri, ada banyak asam amino esensial yang hanya dapat diperoleh dari makanan. Kita butuh berbagai asam amino agar tubuh berfungsi dengan baik.

Orang dewasa setidaknya harus memenuhi kebutuhan protein sebanyak 60-75 gram dalam sehari.

1. Luka sulit sembuh

Mungkin kamu pernah dengan mitos yang bilang kalau kita tidak boleh makan ikan saat sedang mengalami luka, dan ini sering ditujukan ke para ibu yang sedang dalam masa nifas karena dianggap membuat luka sulit kering. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang baik. Asupan protein diperlukan untuk mengganti jaringan yg rusak dengan jaringan yang baru, sehingga luka kering dan sembuh.

Jika konsumsi sumber protein kurang, maka ini malah dapat menyebabkan luka jadi lama atau sulit sembuh. Inilah yang menjadi alasan kenapa pasien pascaoperasi diberikan diet tinggi energi dan protein, salah satu tujuannya agar luka operasi lekas sembuh.

2. Anemia

Anemia adalah kondisi tubuh dengan kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal, sehingga mengganggu proses pengiriman oksigen ke seluruh tubuh dan menimbulkan gejala "5L", yaitu lemah, letih, lesu, lemas, lalai. Gejala lainnya adalah mudah mengantuk dan penurunan konsentrasi.




Hemoglobin merupakan metaloprotein atau protein yang mengandung zat besi. Protein berfungsi sebagai alat transportasi zat besi atau disebut ferritin transferin hingga tulang belakang, yang nantinya digunakan untuk pembentukan hemoglobin atau sel darah merah.

3. Mudah sakit

Salah satu fungsi protein adalah membantu pembentukan antibodi untuk melawan  bakteri atau virus yang masuk ke tubuh.

Tubuh akan mengalami penurunan imunitas atau daya tahan yang berarti juga meningkatkan risiko sakit. Namun, perlu digarisbawahi bahwa protein bukan satu-satunya yang berperan dalam melawan penyakit, ya. Tubuh juga tetap perlu zat gizi lain seperti vitamin dan mineral.

4. Kwasiorkor atau busung lapar

Kwasiorkor atau busung lapar biasanya dialami oleh anak-anak, dan terkadang orangtua tidak menyadari sang anak mengalaminya karena ia terlihat biasa saja dan tetap aktif bermain. Padahal, kwasiorkor harus diwaspadai karena bisa berbagai bagi tumbuh kembang anak.

Anak yang mengalami kwasiorkor akan menunjukkan gejala seperti, rambut mudah dicabut, berwarna merah dan seperti rambut jagung, tinggi dan berat badan tidak bertambah, perut membesar, adanya edema, dan diare. SahabatQQ

Kwasiorkor bisa terjadi karena anak kekurangan protein. Keberadaan protein yang memadai dalam tubuh dapat membentuk jaringan baru. Atau, jika ada sel tubuh yang rusak, maka protein akan memperbaikinya.

5. Stunting

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Bukannya tinggi badan ditentukan oleh genetik? Memang, genetik menjadi faktor penentu tinggi badan, tetapi protein juga gak kalah penting, lo!

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, protein berfungsi membentuk jaringan baru atau mengganti sel yang rusak, sehingga ikut berperan dalam tumbuh kembang anak.

BACA JUGA : 5 Tanaman Herbal yang Mengobati Kulit dari Beragam Problem

Menurut laporan dalam Journal of Ners and Midwifery, studi pada 31 anak usia 25-60 bulan menunjukkan bahwa salah satu penyebab anak mengalami stunting adalah asupan protein yang rendah.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Nutrition and Food Research menunjukkan pada 262 ibu hamil trimester kedua dengan konsumsi protein kurang dari rata-rata, anak berisiko 1,6 kali lebih besar mengalami stunting pada usia 12 bulan. Itulah mengapa kebutuhan protein pada ibu hamil juga bertambah sekitar 10-30 gram.

Memang tinggi badan bisa dikejar hingga masa pubertas. Akan tetapi, bukannya lebih baik bila orangtua berperan aktif dalam mencegah stunting sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan? Inilah kenapa Kementerian Kesehatan RI menggaungkan pentingnya memperhatikan 1.000 hari pertama kehidupan anak (dari hamil hingga anak usia 2 tahun). Agen Domino99

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.